Thursday, 18 December 2014

Disfungsi Seksual Penderita Diabetes


Disfungsi seksual penderita diabetes. Selain pada kaki, neuropati dapat menyebabkan terjadinya disfungsi ereksi (impoten). Keadaan itu juga didasari oleh penyempitan pembuluh darah halus dengan kelainan saraf. Disfungsi ereksi merupakan komplikasi yang paling ditakuti oleh para penderita diabetes laki-laki.
Sebenarnya, disfungsi ereksi dapat terjadi karena beberapa hal, di antaranya adalah beban psikis dan yang paling umum adalah karena usia tua. Pada penderita diabetes, disfungsi ereksi dapat terjadi pada usia yang relatif muda tanpa sebab lain, dan makin cepat terjadi apabila gula darah selalu tinggi, serta disertai dengan kebiasaan merokok.
Disfungsi ereksi bisa juga disebabkan oleh beban psikologis dan karena obat-obat tertentu. Oleh karena itu, dokter harus menyingkirkan sebab-sebab itu untuk sampai pada diagnosis bahwa disfungsi ereksi tersebut memang disebabkan karena diabetes. Setelah itu, akan dianjurkan pengendalian gula darah yang baik sambil memikirkan pemberian obatnya. Di samping itu, untuk laki-laki, ada pula tindakan invasif atau pemakaian alat-alat yang terkadang ditawarkan oleh dokter.

Pada perempuan, disfungsi seksual juga dapat terjadi walaupun tidak jelas, yaitu berkurangnya cairan pelumas, nyeri waktu berhubungan seksual, kadang terjadi anorgasme, dan yang sering pula terjadi adalah menurunnya keinginan untuk berhubungan.
DiIndonesia diperkirakan sekitar 40-50% penderita diabetes mengalami DE dan dibanding dengan penderita DE pada umunya, DE penderita diabetes timbul pada usia yang lebih muda. Dengan meningkatnya jumlah penderita diabetes yang terus menerus tiap tahun, terutama di negara berkembang, akan meningkatkan jumlah penderita DE. pelayanan penderita diabetes yang makin baik akan mengubah pola komplikasi diabetes dari yang akut menjadi meanhun, hal ini berarti akan menambah jumlah penderita DE yang mengalami komplikasi menahun. Suatu penelitian menyebutkan bahwa hanya 18% sari keseluruhan penderita DE dan diabetes yang mendapat pengobatan untuk DE-nya. Selain itu hanya 18-27% penderita DE dan diabetes akan memulai diskusi tentang DE, sehingga dokter harus lebih aktif menanyakan tentang fungsi ereksi pada penderita diabetes.